Besarnya Dedikasi Guru Honorer yang Dibalas dengan Upah Minim
"Mengajar puluhan murid setiap hari, tapi gaji yang diterima tak cukup membeli satu karung beras. Ribuan guru honorer di Indonesia hidup di tengah ketidakadilan struktural seperti ini."
Guru
honorer memegang peran vital dalam sistem pendidikan, mulai dari mengajar,
membimbing, hingga mendampingi siswa. Namun, di balik dedikasi mereka, terdapat
fakta pahit: gaji rendah dan status
kerja yang tidak pasti. Menurut penelitian Bagaskara dkk. (2025),
ketidakadilan struktural ini membuat guru honorer sering merasa tidak dihargai,
meski tanggung jawab mereka sama besar dengan guru ASN/PNS.
Data
terbaru menunjukkan bahwa sekitar 74%
guru honorer menerima gaji di bawah Upah Minimum Regional (UMR), bahkan ada
20,5% yang penghasilannya kurang dari Rp
500 ribu per bulan (IDEAS & GREAT Edunesia Dompet Dhuafa, 2024).
Kondisi ini memaksa banyak guru honorer mencari pekerjaan tambahan di luar jam
mengajar, mulai dari berdagang hingga bekerja serabutan, agar bisa memenuhi
kebutuhan hidup.
Selain
gaji rendah, guru honorer menghadapi ketidakpastian
status kerja. Banyak yang hanya memiliki kontrak sementara tanpa jaminan
keberlanjutan, tergantung kebijakan sekolah atau pemerintah daerah.
Ketidakpastian ini menambah beban psikologis dan mengganggu fokus mereka dalam
mengajar.
Padahal,
guru honorer adalah pilar pendidikan. Tanpa mereka, banyak sekolah akan
kekurangan tenaga pengajar. Kesejahteraan mereka bukan hanya soal keadilan,
tetapi juga investasi bagi mutu pendidikan nasional. Memberikan gaji layak dan
jaminan pekerjaan akan meningkatkan motivasi, kinerja, dan kualitas
pembelajaran bagi siswa.
Guru
honorer tidak boleh terus menjadi “pahlawan tanpa gaji layak.” Dengan
penghargaan yang setimpal, mereka dapat mengajar dengan sepenuh hati tanpa
khawatir soal kebutuhan hidup. Pendidikan berkualitas untuk generasi bangsa
tidak mungkin tercapai tanpa kesejahteraan bagi para pendidik yang berdedikasi
ini.
Ditulis oleh Sasya Fitria Handayani (PE 2025 B)
Referensi :