Jebakan Diskon dan Trend : Mahasiswa Perlu Menjadi Konsumen Kritis
Mahasiswa adalah status awal yang menjadikan Langkah awal menuju kehidupan yang sebenarnya, dimana seseorang harus bisa melakukan semuanya secara mandiri sekecil mengelola keuangan. Mengelola keuangan merupakan salah satu aspek yang sangatlah penting dalam kehidupan sehari hari mahasiswa, karena dengan mengelola keuangan mahasiswa dapat terhindar dari masalah keuangan yang menjadikan ketidakfokusan dalam perkuliahan.
Dalam pengelolaan keuangan pasti juga terdapat aspek konsumtif, namun dalam hal itu sebagai mahasiswa harus menjadi konsumen yang kritis, dimana dalam melakukan kegiatan konsumtif harus memilah memilih apa yang memang diperlukan dan mana yang hanya lapar mata seperti saat melihat adanya barang diskon, padahal barang tersebut tidak sepenunya dibutuhkan.
Di era digital, mahasiswa semakin akrab dengan budaya belanja online maupun offline. Tawaran diskon besar-besaran, promo kilat, hingga tren produk terbaru sering kali menjadi daya tarik yang sulit ditolak. Namun, di balik potongan harga dan tren yang viral, tersimpan jebakan konsumtif yang bisa merugikan mahasiswa jika tidak disikapi dengan bijak.
Mahasiswa di era digital ini tidak hanya membeli barang berdasarkan kebutuhan fungsional, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai elemen
- internal seperti harga yang kompetitif, promosi yang menggiurkan, dan tampilan produk yang menarik.
- external seperti dipicu oleh sistem notifikasi, algoritma rekomendasi, serta berbagai strategi pemasaran digital yang secara halus tetapi intens mendorong perilaku konsumsi.
Semua faktor ini saling berinteraksi untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang tidak hanya rasional tetapi juga emosional, mendorong mahasiswa untuk m terlibat dalam aktivitas konsumsi yang terus-menerus mengundang mereka untuk kembali berbelanja.
Diskon menjadikan seseorang membeli yang sebenarnya dapat dikatakan tidak penting. begitu juga dengan trend, mahasiswa sering terdorong membeli barang hanya untuk gaya hidup. jika terus berlanjut maka kebiasaan ini akan menguras keuangan, tidak efisiennya pengelolaan uang, serta mempengaruhi fokus akademik mahasiswa.
Oleh karena itu mahasiswa perlu menjadi konsumen kritis agar tidak terjebak dalam godaan diskon dan trend dan dapat mengelola keuangan dengan bijak.
• Tips menjadi konsumen kritis
1. Menyusun skala prioritas
2. Mementingkan membeli kebutuhan utama
3. Jangan tergiur diskon/promosi barang yang tidak dibutuhkan
4. Membeli barang dalam jumlah yang cukup
5. Tidak mengikuti trend yang dikira tidak penting
Tips menjadi konsumen kritis dapat dijadikan upaya oleh mahasiswa agar dapat terhindar dari sikap konsumtif yang berlebihan dan mampu mengelola keuangan dengan lebih bijak. Tips ini juga tidak hanya berdampak pada Kesehatan finansial tetapi juga membentuk karakter yang lebih matang dan cerdas dalam mengelola keuangan.
Ditulis oleh Hielda Hannani Mawaddah (PE 2025 C)
Referensi :
- Gambar https://pin.it/LnKR0q0lL
- Fella lakuy. Yustina Sopacua.(2025). Antara Harga, Promosi, dan Gaya Hidup: Faktor-Faktor Pembentuk Perilaku Konsumtif Mahasiswa di Era Marketplace Digital.
- Teguh Sarwono.(2025). Mengelola Keuangan Pribadi: Tips Hemat untuk Mahasiswa. https://biropk.uinjkt.ac.id/id/mengelola-keuangan-pribadi-tips-hemat-untuk-mahasiswa
- https://jasindo.co.id/media/all/5-tips-menjadi-konsumen-cerdas
- https://depositobpr.id/blog/cara-menghindari-sifat-konsumtif