Kelas Sosial dalam Perspektif Karl Marx: Borjuis, Proletar, dan Konflik Kelas
PENDAHULUAN
Karl Heinrich Marx lahir pada 5 Mei 1818 di kota Trier di
perbatasan Barat Jerman yang waktu itu termasuk Prussia (Tarumingkeng, 2025).
Karl Marx dikenal sebagai tokoh intelektual yang berperan sebagai filsuf,
sosiolog, ekonom, politisi, dan aktivis. Ia menggambarkan pemikirannya sebagai
bentuk kritik terhadap sistem ekonomi politik dari sudut pandang kelas pekerja,
yang disebut sebagai filsafat kritis. Gagasan-gagasannya banyak digunakan oleh
para akademisi dan tetap memiliki nilai penting sebagai alat analisis sosial
yang tajam (Hendriwani, 2022).
Pemikiran Marx berakar pada tradisi
intelektual abad ke-19. Ia melihat sejarah manusia sebagai suatu proses alami
yang, layaknya fenomena lainnya, dapat diteliti secara ilmiah. Melalui
pendekatan ilmiah ini, kita dapat mengungkap makna, pola, dan arah perkembangan
peristiwa sejarah, termasuk dalam skala global. Meskipun pandangannya serupa
dengan teori evolusi, Marx memiliki pendekatan khas melalui materialisme
historis yang dipengaruhi oleh konsep dialektika dari Hegel (Farihah, 2015).
Pemikirannya tentang perjuangan
kelas dan konflik antara borjuis dan dan proletar menjadi dasar teori marxisme
yang berpengaruh luas dalam bidang filsafat, ekonomi, dan sosiologi. Latar
belakang kehidupan dan pemikiran Marx sangat penting untuk memahami konsep
kelas sosial yang ia kemukakan, khususnya mengenal dinamika konflik kelas dalam
masyarakat kapitalis yang menjadi inti kritik sosialnya.
PEMBAHASAN
Kelas Sosial
Menurut Karl Marx
Menurut Karl Marx, kelas sosial
adalah fenomena yang secara khusus muncul dalam masyarakat setelah berakhirnya
sistem feodalisme. Marx mengemukakan bahwa dalam sistem kelas sosial terdapat
perbedaan antara kelas atas, dalam masyarakat kapitalis, Marx membagi kelas
sosial menjadi tiga kelompok utama: pertama, buruh yang menggantungkan hidupnya
pada upah kerja; kedua, pemilik modal yang mendapatkan keuntungan dari laba
usaha; dan ketiga, tuan tanah yang memperoleh penghasilan melalui sewa tanah.
Marx menjelaskan bahwa hubungan antara kelas-kelas ini ditandai oleh
eksploitasi, penindasan, serta dominasi antara kelompok yang memegang kekuasaan
dan kelompok yang berada di bawahnya (Parlan & Bahar, 2024).
Kelas sosial menurut Lenin pemimpin Revolusi Rusia 1714,
Kelas sosial adalah kelompok dalam suatu struktur masyarakat yang dibedakan
berdasarkan peran atau kedudukannya dalam proses produksi. Namun, Karl Marx
berpendapat bahwa kelas sosial dan golongan masyarakat adalah dua hal yang
berbeda. Kelas sosial merupakan gejala khusus masyarakat pascafeodal, sedangkan
golongan masyarakat adalah apa yang biasa disebut dengan kasta. Kelas sosial
baru disebut sebagai kelas sosial dalam arti sesungguhnya apabila secara
objektif merupakan golongan khusus dalam masyarakat mempunyai
kepentingan-kepentingan spesifik serta mau memperjuangkannya (Hendriwani,
2022).
Karl Marx membagi masyarakat
kapitalis menjadi dua kelas sosial utama yang saling bertentangan, yaitu kelas
borjuis dan kelas proleter. Kelas borjuis adalah pemilik modal dan alat-alat
produksi. Mereka menguasai proses produksi dan mempekerjakan buruh sebagai
tenaga kerja upahan. Sebaliknya, kelas proletar adalah para pekerja yang tidak
memiliki alat produksi dan hanya memiliki tenaga kerja yang mereka jual kepada
borjuis untuk mendapatkan upah.
Borjuis: Pemilik Modal dan Eksploitator
Borjuis adalah golongan yang memiliki fasilitas dan alat
produksi, termasuk perusahaan sebagai modal dalam kegiatan produksi (Ummu
Salama Nurlayl, 2015). Borjuis memiliki posisi dominan dalam sistem kapitalisme
karena mereka mengontrol alat produksi dan modal. Mereka memperoleh keuntungan
dari nilai surplus yang dihasilkan oleh tenaga kerja proletar. Dalam pandangan
Marx, borjuis tidak hanya sebagai pemilik modal tetapi juga sebagai kelas yang
melakukan eksploitasi terhadap proletar dengan membayar upah yang lebih rendah
dari nilai kerja yang sebenarnya dihasilkan oleh buruh. Borjuis bukan hanya
pemilik modal, tetapi juga pengendali utama dalam struktur sosial kapitalisme
yang berusaha mempertahankan status quo demi kepentingan mereka sendri. Mereka
memperoleh keuntungan dengan mempekerjakan proletar, yaitu kelas pekerja yang
menjual tenaga kerja mereka untuk mendapatkan upah, yang biasanya lebih rendah
dari nilai kerja mereka hasilkan (Hendriwani, 2022)
Menurut Marx, kelas borjuis
cenderung bersikap konservatif karena mereka berkepentingan mempertahankan
kekuasaan dan kekayaan yang sudah dimiliki. Mereka berusaha menentang perubahan
sosial yang dapat mengancam posisi dominan mereka. Dalam hubungan sosial
kapitalis, borjuis memanfaatkan tenaga kerja proletar untuk menghasilkan nilai
surplus yang menjadi sumber keuntungan mereka. Konflik kepentingan antara
borjuis dan proletar bersifat antagonis, karena borjuis ingin memaksimalkan
keungtungan dengan menekan upah dan kondisi kerja, sementara proletar berjuang
untuk kesejahteraan dan hak-hak mereka (Karunia, 2016)
Proletar:
Kelas Pekerja dalam Sistem Kapitalisme
Kelas proletar dalam perspektif Karl Marx
adalah kelompok pekerja yang tidak memiliki alat produksi dan hanya memiliki
tenaga kerja yang mereka jual kepada kelas borjuis untuk mendapatkan upah.
Proletar merupakan kelas pekerja yang menjalankan proses produksi tetapi tidak
menguasai hasil kerja mereka, sehingga mereka mengalami eksploitasi oleh
borjuis yang mengambil nilai surplus dari tenaga kerja mereka. Marx
menggambarkan kondisi proletar sebagai sangat menyedihkan karena mereka dipaksa
bekerja dalam jam kerja yang panjang dengan upah yang rendah, sementara hasil
kerja mereka dinikmati oleh kaum kapitalis (Hendriwani, 2022)
Proletar tidak memiliki sarana
produksi, sehingga mereka bergantung sepenuhnya pada pekerjaan yang disediakan
oleh borjuis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kondisi ini menciptakan
ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang menjadi sumber konflik kelas dalam
masyarakat kapitalis. Marx melihat bahwa perjuangan kelas proletar melawan
borjuis adalah inti dari perubahan sosial dan sejarah manusia (Ummu Salama
Nurlayl, 2015).
Kesadaran kelas proletar ini penting
karena mendorong mereka untuk bersatu dan menuntut keadilan, memperjuangkan
hak-hak buruh, dan menghapuskan kepemilikan pribadi atas alat produksi yang
menjadi sumber penindasan. Revolusi proletariat, menurut Marx, akan mengakhiri
dominasi borjusi dan menciptakan masyarakat tanpa kelas, di mana alat produksi
dikuasi bersama dan hasil kerja dinikmati secara adil oleh seluruh anggota
masyarakat (Raharusun, 2021)
Konflik Kelas dalam Sistem Kapitalisme: Pertentangan antara
Borjuis dan Proletar
Karl Marx memandang bahwa konflik
kelas merupakan inti dari dinamika sosial dalam masyarakat kapitalis. Menurut
Marx, masyarakat terdiri dari dua kelas utama yang saling bertentangan, yaitu
kelas borjuis sebagai pemilik alat produksi dan kelas proletar sebagai para
pekerja (Karunia, 2016). Konflik ini muncul karena adanya eksploitasi yang
dilakukan oleh kelas borjuis terhadap kelas proletar, di mana kaum buruh hanya
menerima upah yang minim, tidak sebanding dengan kerja keras dan nilai yang
mereka hasilkan.
Marx berpendapat bahwa perjalanan
sejarah masyarakat manusia pada dasarnya merupakan sejarah konflik antara
kelas-kelas sosial. Kelas borjuis berusaha mempertahankan kekuasaan dan
keuntungan mereka dengan mengendalikan alat-alat produksi, sementara kelas
proletar mengalami penindasan dan ketidak adilan ekonomi (Karunia, 2016).
Eksploitasi ini menyebabkan ketegangan dan konflik yang berkelanjutan, yang
pada akhirnya dapat memicu revolusi sosial untuk menghapuskan sistem kelas dan
menciptakan masyarakat tanpa kelas.
Konflik kelas menurut Marx bukan
hanya persoalan ekonomi, tetapi juga politik dan sosial. Negara dan hukum
dipandang sebagai alat yang digunakan oleh kelas borjuis untuk mempertahankan
dominasi mereka. Ketidakadilan dalam distribus kekayaan dan kekuasaan
menyebabkan keteganngan yang terus meningkat dan dapat memuncak pada perubahan
sosial radikal.
PENUTUP
Pemikiran Karl Marx mengenai kelas
sosial menyoroti ketimpangan dan konflik yang terjadi dalam masyarakat
kapitalis. Ia membagi masyarakat kapitalis menjadi dua kelas utama: borjuis dan
proletar. Hubungan antara keduanya bersifat eksploitatif, di mana borjuis
mendapatkan keuntungan dari kerja proletar yang dibayar rendah.
Marx
menegaskan bahwa konflik ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut
kekuasaan dan politik. Proletar yang sadar akan penindasan ini diharapkan
bersatu dan melakukan revolusi untuk mengakhiri dominasi borjuis dan membentuk
masyarakat tanpa kelas.
Dengan memahami teori Marx, kita dapat menelaah ketimpangan sosial secara lebih kritis dan memikirkan solusi untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara. Pemikirannya tetap relevan dalam menganalisis persoalan sosial kontemporer.
Ditulis oleh Vanessa Meyrina Patricia Syahrah (PE 2024 B)
Referensi :
Farihah, I. (2015). Filsafat
Materialisme Karl Marx. FIKRAH: Jurnal
Ilmu Aqidah Dan Studi Keagamaan, 3(2),
431–454.
Hendriwani, S. (2022). Teori Kelas
Sosial Dan Marxsme Karl Marx. Paradigma:
Jurnal Kalam Dan Filsafat, 2(01),
13–28. https://doi.org/10.15408/paradigma.v2i01.26617
Karunia. (2016). No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title.
4(June), 2016.
Parlan, H. P., & Bahar, H.
(2024). Filsafat Materialisme Karl Marx (Epistimologi Dialectical And
Historical Materiali). Tarbiatuna:
Journal of Islamic Education Studies, 4(2),
415–428. https://doi.org/10.47467/tarbiatuna.v4i2.6325
Raharusun, J. H. (2021). Makna Kerja
Menurut Karl Marx (Sebuah Kajian dari Perspektif Filsafat Manusia). MEDIA Jurnal Filsafat Dan Teologi , 2(01), 121–144.
Tarumingkeng, P. I. R. C. P. (2025).
Karl Marx (1818-1883). 1–42.
Ummu Salama Nurlayl. (2015). BURUH DAN GERAKAN SOSIAL (Studi tentang Demontrasi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dalam Menyikapi Kebijakan Pemerintah Provinsi tentang Upah Minimum Regional (UMR) Kabupaten Sidoarjo). 38–58.
gambar : https://chatgpt.com/s/m_684a305e8b248191a371b13703fa01f6