KEYNESIANISME DAN MONETARISME: PERDEBATAN PANJANG TENTANG PERAN NEGARA DALAM EKONOMI
Perdebatan mengenai sejauh mana negara harus terlibat dalam mengelola perekonomian telah menjadi isu sentral dalam sejarah pemikiran ekonomi. Dua aliran yang mendominasi dalam hal ini adalah keynesianisme dan monetarisme. Keynesianisme yang dikembangkan oleh John Maynard Keynes pada tahun 1930 berpendapat bahwa intervensi pemerintah sangat diperlukan, khususnya melalui kebijakan fiskal untuk mengatasi resesi dan menjaga stabilitas ekonomi. Sementara itu, monetarisme yang dipelopori oleh Milton Friedman pada tahun 1970 menekankan pentingnya kestabilan moneter dan percaya bahwa pasar secara alamiah mampu mencapai keseimbangan apabila jumlah uang beredar dikendalikan secara hati – hati.
Dalam praktiknya, kedua pendekatan ini saling bersaing dalam mempengaruhi arah kebijakan ekonomi di berbagai negara. Dalam situasi krisis, seperti Depresi Besar tahun 1930 atau Resesi Global 2008, banyak negara cenderung menerapkan prinsip – prinsip Keynesian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, dalam masa normal, prinsip monetaris sering dijadikan acuan utama, khususnya dalam mengendalikan inflasi. Di Indonesia, perdebatan ini tercermin dalam kebijakan fiskal dan moneter yang diambil oleh pemerintah maupun Bank Indonesia. Artikel ini bertujuan membahas perbedaan mendasar antara keynesianisme dan moneterisme serta implikasinya terhadap peran negara dalam mengelola ekonomi modern.
A. Konsep Dasar Keynesianisme
Keynesianisme lahir dari kegagalan pasar dalam mengatasi krisis Depresi Besar pada tahun 1930. Dalam karya terkenalnya yaitu “The General Theory of Employment, Interest, and Money” (1936), Keynes berargumen bahwa pasar tidak selalu dapat mencapai keseimbangan secara otomatis. Dalam kondisi resesi, permintaan agregat yang rendah menyebabkan pengangguran tinggi dan stagnasi ekonomi. Solusi yang ditawarkan Keynes adalah peningkatan belanja pemerintah dan penurunan suku bunga untuk merangsang konsumsi dan investasi. (Keynes, 1936).
Pemerintah dalam pandangan Keynes memiliki peran strategis dalam mengelola fluktuasi ekonomi. Intervensi fiskal berupa stimulus anggaran, proyek infrastruktur atau subsidi dianggap penting untuk menjaga tingkat permintaan agregat. Model Keynesian ini menekankan pentingnya peran negara dalam menciptakan lapangan kerja, menjaga daya beli masyarakat dan menghindari deflasi yang merugikan.
Kebijakan fiskal ekspansif menjadi alat utama dalam pendekatan Keynesian. Pemerintah dapat menurunkan pajak atau meningkatkan pengeluaran untuk mendorong konsumsi dan investasi. Keynes juga tidak menganggap deficit anggaran sebagai hal negative dalam jangka pendek, selama hal tersebut mampu memulihkan perekonomian. Prinsip Keynesian ini banyak digunakan dalam konteks krisis, termasuk dalam respons negara – negara terhadap krisis keuangan global 2008 dan pandemic covid-19
B. Konsep Dasar Monetarisme
Monetarisme muncul sebagai respons terhadap kelemahan kebijakan fiskal yang dianggap terlalu intervensionis dan menciptakan inflasi. Milton Friedman tokoh utama dalam teori ini menekankan bahwa penyebab utama inflasi adalah pertumbuhan jumlah uang beredar yang melebihi pertumbuhan output rill. Dalam karyanya yaitu “A Monetary History of the United States” (1963), Friedman dan Schwartz menunjukkan bagaimana kesalahan kebijakan moneter memperparah Depresi Besar (Friedman & Schwartz, 1963)
Monetarisme menolak intervensi aktif pemerintah dalam ekonomi, kecuali dalam hal menjaga kestabilan moneter. Pemerintah sebaiknya menetapkan target pertumbuhan uang yang konstan dan membiarkan pasar bekerja secara efisien. Dalam jangka panjang, Friedman percaya bahwa inflasi hanya bisa dikendalikan melalui kebijakan moneter yang ketat. Oleh karena itu, bank sentral memainkan peran utama, bukan anggaran negara.
Friedman memperkenalkan kebijakan moneter berbasis aturan (monetary rule), yakni peningkatan jumlah uang beredar secara stabil dan moderat setiap tahun sesuai pertumbuhan ekonomi potensial. Ia juga menentang penggunaan kebijakan fiskal ekspansif secara berlebihan karena cenderung menimbulkan defisit anggaran dan inflasi. Dalam kerangka monetaris, peran negara dalam ekonomi harus diminimalisasi dan pasar sebaiknya diberi kebebasan untuk bekerja secara efisien.
C. Perbedaan Utama: Peran Negara
Perbedaan mendasar antara keynesianisme dan Monetarisme terletak pad acara pandang terhadap peran negara. Bagi Keynesian, negara merupakan penyelamat disaat pasar gagal. Bagi monetaris, negara justru menjadi penyebab ketidakseimbangan jika terlalu dominan. Dalam konteks resesi, Keynesian mendorong stimulus fiskal untuk meningkatkan permintaan, sebaliknya monetaris lebih mengandalkan pelonggaran moneter dan menentang peningkatan utang publik.
Perdebatan ini juga tercermin dalam kebijakan ekonomi negara berkembang seperti Indonesia. Ketika pandemic covid-19 melanda, pemerintah Indonesia melakukan kebijakan fiskal ekspansif Keynesian untuk mendukung daya beli dan pemulihan ekonomi. Namun, dalam jangka panjang, Bank Indonesia tetap menjalankan kebijakan moneter yang sangat hati – hati, mengacu pada prinsip – prinsip monetarisme.
D. Relevansi Keynesianisme dan Monetarisme
Pada praktiknya, banyak negara tidak secara mutlak menganut satu aliran. Sebaliknya, mereka akan menggabungkan unsur dari kedua pendekatan ini. Hal ini dikenal sebagai sintesis neoklasik yang berusaha menyeimbangkan antara intervensi fiskal dan control moneter. Dalam situasi darurat, pendekatan Keynesian sering digunakan, sedangkan dalam periode normal, prinsip monetaris lebih dominan.
Seorang ekonom sepeti Paul Samuelson telah mencoba mengintegrasikan teori Keynesian dan monetaris dalam kerangka makro ekonomi modern. Ini menunjukkan bahwa meskipun debat diantara kedua aliran ini panjang dan kompleks, keduanya memiliki kontribusi penting tergantung pada konteks dan tantangan ekonomi yang dihadapi.
Perdebatan diantara Keynesianisme dan monetarisme mencerminkan dua pandangan dunia yang berbeda mengenai peran negara dalam ekonomi. Disatu sisi, keynesianisme melihat negara sebagai peran penting dalam menciptakan stabilitas ekonomi melalui kebijakan fiskal aktif. Disisi lain, monetarisme menekankan pentingnya pasar dan peran bank sentral dalam mengendalikan inflasi melalui pengelolaan uang beredar. Dalam praktik kebijakan public, kedua pemdekatan ini saling melengkapi dan digunakan secara konstektual sesuai kondisi ekonomi yang dihadapi. Dengan memahami kekuatan dan keterbatasan masing – masing pendekatan, pembuat kebijakan dapat merancang strategi ekonomi yang lebih adaptif dan efektif.
Ditulis oleh Nurul Husna (PE 2024 B)
Referensi :
- Muttaqin, H. (2020). Makroekonomi Keynes. Program Studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Lambung Mangkurat. https://iesp.ulm.ac.id/wp-content/uploads/2020/02/06-Makroekonomi-Keynes.pdf
- Corporate Finance Institute. (n.d). Monetarist Theory. (https://corporatefinanceinstitute.com/resources/economics/monetarist-theory/ )
- Perbedaan Monetaris dan Keynesian. Scribd. (https://www.scribd.com/document/555250374/Perbedaan-Monetaris-vs-Keynesia)
- Monetarism (Economic Theory). EBSCO Research Startes (https://www.ebsco.com/research-starters/economics/monetarism-economic-theory )
- https://www.freepik.com/free-photo/forex-stock-crisis-venture_3532758.htm#fromView=search&page=1&position=3&uuid=3b374721-f5c9-46ea-bd28-f9cd839624de&query=Economics