UMKM Sebagai Tulang Punggung Ekonomi Nasional: Masihkah Relevan?
Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) selama ini sering disebut sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia. Sebutan ini memang bukan tanpa alasan. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM, sekitar lebih dari 99% dari total usaha di Indonesia adalah UMKM. Mereka juga memberikan kontribusi besar dalam hal menyerap tenaga kerja dan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, di tengah perkembangan teknologi, globalisasi, dan adanya disrupsi digital, muncul pertanyaan: apakah UMKM masih relevan sebagai pilar utama perekonomian bangsa ini?
Kontribusi UMKM bagi Ekonomi
UMKM termasuk dalam usaha yang sangat penting, terutama ketika terjadi krisis. Contohnya di masa pandemi COVID-19, banyak perusahaan besar yang melakukan pengurangan biaya, tetapi UMKM tetap bertahan. Mereka inovatif dengan mengadopsi platform digital, mengganti layanan tradisional menjadi layanan pesan antar, atau menambah variasi produk. Perannya sangat penting, yaitu:
- Menyerap lebih dari 60% tenaga kerja di Indonesia.
- Menyumbang sekitar 60% dari PDB.
- Mendorong pemerataan ekonomi, khususnya di daerah.
Tantangan yang Dihadapi UMKM
Meskipun perannya besar, UMKM tetap menghadapi berbagai hambatan, antara lain:
- Kesulitan akses permodalan, seperti kesulitan mendapat pinjaman dari bank.
- Keterbatasan dalam teknologi digital, tidak semua pelaku UMKM bisa memanfaatkan teknologi secara optimal.
- Kualitas SDM dan kurangnya inovasi, karena minimnya pelatihan yang diberikan.
- Persaingan dengan produk luar negeri yang masuk melalui platform e-commerce.
Peluang di Era Digital
Di sisi lain, era digital justru membuka peluang besar bagi UMKM:
- Marketplace dan media sosial memungkinkan produk lokal menjangkau pasar dalam maupun luar negeri.
- Berbagai program pemerintah seperti kredit usaha rakyat (KUR), pendampingan digitalisasi, dan sertifikasi halal memberikan penopang tambahan.
- Tren keberlanjutan mendorong UMKM yang ramah lingkungan semakin diminati.
Masihkah Relevan?
Jawabannya: Ya, UMKM masih relevan.
Bahkan, dengan potensi yang besar, UMKM bisa menjadi penggerak utama dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Namun, relevansi ini tidak bisa dijaga sendiri; dibutuhkan transformasi melalui:
- Meningkatkan pemahaman dan kemampuan digital pelaku UMKM.
- Menyediakan akses permodalan yang lebih mudah dan inklusif.
- Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, serta komunitas untuk membangun ekosistem UMKM yang kuat.
UMKM tidak hanya menjadi pilar yang menopang perekonomian, tetapi juga bisa menjadi penggerak transformasi ekonomi Indonesia menuju masa depan yang lebih inklusif, inovatif, dan berkelanjutan. Dengan dukungan yang tepat, UMKM tetap relevan dan bahkan bisa menjadi kekuatan utama yang membawa Indonesia menjadi kekuatan ekonomi global. UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional yang memiliki potensi besar jika diberdayakan secara baik. Dukungan teknologi, pembinaan, dan kemudahan akses pasar akan memperkuat peran UMKM dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.
Ditulis oleh Fariha Nur Nadzifah (PE 2025 C)
Referensi:
Kementerian UMKM sebut 65,5 juta UMKM serap 119 juta tenaga kerja - ANTARA News https://share.google/RIVRzEtBxdbMS5Rnn
Kontribusi UMKM Terhadap PDB Indonesia 60,51 Persen dan Serap 96,92 Tenaga Kerja - Niaga.Asia https://share.google/CAvgGkBCStvy58GiU
Dukung UMKM Naik Kelas, Pemerintah Dorong Transformasi Ekonomi Berbasis Digital dan Tingkatkan Dukungan Pembiayaan - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia https://share.google/gT6tXbnsU2n3xADjM