Utang Luar Negeri Indonesia 2025: Ancaman atau Peluang?
Utang luar negeri merupakan biaya yang harus dibayar, yang merupakan hasil dari pengelolaan ekonomi yang tidak seimbang atau proses pemulihan ekonomi yang tidak konsisten dan komprehensif. Utang luar negeri Indonesia terus menjadi topik pembicaraan yang hangat, terutama menjelang tahun 2025. Data terbaru menunjukkan bahwa posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir November 2024 mencapai US$424,1 miliar, meningkat dari US$423,4 miliar pada Oktober 2024. Meskipun terjadi peningkatan, pertumbuhan ini melambat menjadi 5,4% year on year (YoY) dibandingkan dengan 7,7% pada bulan sebelumnya.
Struktur Utang dan Tantangan yang Dihadapi
Utang luar negeri Indonesia terdiri dari utang pemerintah dan utang swasta. Pada November 2024, utang luar negeri pemerintah meningkat menjadi US$203,01 miliar dari US$201,14 miliar pada Oktober 2024. Peningkatan ini sejalan dengan penerbitan surat utang untuk membiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 dan pendanaan awal APBN 2025. Di sisi lain, utang luar negeri swasta menurun dari US$195,47 miliar menjadi US$194,59 miliar pada periode yang sama.
Tantangan lain yang dihadapi adalah defisit anggaran dan melemahnya nilai tukar rupiah. Defisit anggaran diperkirakan berkisar antara 2,45% hingga 2,8% pada 2025, yang berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan utang. Selain itu, melemahnya rupiah dapat menambah beban utang, terutama karena sekitar 29% utang pemerintah denominasi dalam mata uang asing.
Strategi Pemerintah dalam Mengelola Utang
Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah berencana menarik pembiayaan utang sebesar IDR 775,87 triliun pada tahun 2025, meningkat 19,71% dari tahun sebelumnya. Strategi ini mencakup penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan penarikan pinjaman luar negeri. Pinjaman luar negeri dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 direncanakan sebesar IDR 216,5 triliun, meningkat signifikan hingga 219% dari tahun sebelumnya.
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan mekanisme “debt switch” atau restrukturisasi utang untuk mengelola utang yang akan jatuh tempo sebesar Rp800,33 triliun pada 2025. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengelola beban utang secara lebih efisien.
Pandangan Ekonom: Ancaman atau Peluang?
Ekonom menilai bahwa meskipun peningkatan utang luar negeri dapat menjadi ancaman jika tidak dikelola dengan baik, utang juga dapat menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembiayaan proyek-proyek produktif. Namun, penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa penarikan utang baru digunakan secara efisien dan tidak menambah beban fiskal yang berlebihan.
Secara keseluruhan, pengelolaan utang luar negeri Indonesia pada tahun 2025 memerlukan keseimbangan antara memanfaatkan utang sebagai alat pembangunan dan menjaga keberlanjutan fiskal. Dengan strategi yang tepat, utang luar negeri dapat menjadi peluang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi tanpa pengelolaan yang hati-hati, utang tersebut berpotensi menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi nasional.
Ditulis oleh Uswatun Khasanah (PE 23 I)
Referensi:
Bank Indonesia. (2025, 16 Januari). ULN Indonesia Naik Mencapai 424,1 Miliar Dolar AS, BI: Pertumbuhan Melambat. Bisnis.com.
Bisnis.com. (2024, 17 Desember). Pemerintah cari tambahan kas pada 2025 melalui pinjaman luar negeri, efek tekanan PPN sebesar 12%. Ekonomi Bisnis.
Uang. (2025, Januari). Defisit anggaran dan pelemahan rupiah akan mempengaruhi posisi utang negara pada 2025. Kontan.co.id.
Kompas.com. (2025, 1 Januari). Utang jatuh tempo 2025 akan mencapai Rp 800 T, bagaimana strategi pemerintah?.Kompas.com.
Maryani, E., Azhar, Z., & Yeni, I. (2023). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi utang luar negeri dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Jurnal Kajian Ekonomi dan Pembangunan, 5(2), 21-30. Universitas Negeri Padang.
Reuters. (2024, Desember 18). Indonesia cenbank to buy more govt debt in 2025 in deal over maturing COVID bonds.